kopi lagi
malam minggu (7/7/07) tadi, bisa jadi merupakan malam yang sulit terlupakan. ada banyak nasehat dan pesan yang bisa diambil untuk selanjutnya diwujudkan ke dalam perbuatan sehari-hari.
tadinya, kami hanya sekedar bertukar cerita karena sudah satu minggu ini tidak bertemu. sambil bertegur sapa ditemani secangkir kopi panas dan 3 bungkus sampoerna a mild, pembicaraan mulai beralih ke arah yang lebih serius. salah satu yang menjadi pokok bahasan adalah belajar menjadi hamba dalam konteks hubungan antara manusia dan tuhannya.
menurut sang teman, selama ini manusia begitu angkuh dan sombong. manusia dengan segala keterbatasan dan kekurangannya telah merasa diri sudah menjadi seorang hamba. padahal menurutnya, sungguh jauh perjalanan untuk bisa menjadi seorang hamba.
ditambahkannya, menjadi hamba yang sebenar-benar hamba sesungguhnya tidaklah sulit. namun, ketidakmampuan manusia menerima bahwa sesungguhnya seluruh gerak dan diamnya adalah semata atas pertolongan tuhanlah yang membuat manusia menjadi buta. manusia tak mampu melihat segala ketidakberdayaannya.
dikatakannya, manusia itu karena merasa punya otak encer, punya duit segudang, punya tanah sepulau lantas begitu meyakini bahwa segala hasil yang diperoleh adalah hasil jerih payahnya selama ini. segala keberhasilan dan segala sukses yang diraih ditasbihkan bahwa semua itu karena dirinyalah yang punya andil.
“jangankan kepada tuhan, kepada sesama manusia saja, cukup banyak manusia yang memandang sebelah mata kepada manusia lainnya. padahal, tanpa manusia lain yang ada di sekelilingnya, sesungguhnya manusia itu tak akan pernah mampu berbuat apapun,” ucapnya lirih sambil menghembuskan hisapan terakhir sampoerna a mildnya.
dengan begitu, lanjutnya, manusia itu sedang menuju ke arah kehancuran. menggali kuburnya sendiri. tinggal menunggu waktu.
mendengar itu, jiwa ini terasa bergemuruh dan bergetar. terselip rasa bersalah karena sudah memperlakukan manusia lain dengan cara yang tidak manusiawi. ternyata, selama ini, saya kerap menganggap manusia lain tak lebih dari sekedar kacung yang bisa diperintah seenaknya. selama ini, saya selalu menggangap bahwa manusia lain tak lebih pandai dari kepandaian yang saya miliki …
beruntung, saya memiliki teman yang masih mau mengingatkan di saat kaki ini mulai melangkah ke arah yang tidak semestinya dilalui. jiwa ini seakan dicabik. tercabut dari kotoran bongkah yang ternyata selama ini bersemayam begitu mesranya.
kini, segala lakon dan perbuatan, tak lebih dari sekedar tanda syukur karena sudah diberi kenikmatan yang sempurna yaitu otak yg masih waras berpikir, lidah yang masih bisa merasakan nikmatnya kepiting lada hitam, hidung yang masih mampu membedakan wangi tubuh isteri tercinta dengan perempuan lain sehingga tidak maen cumbu tanpa ampun, mata bening yang bisa membedakan antara bidadari dan babi hutan.
Comments : No Comments »
Categories : open mind